Bayi Prematur Tewas karena Lockdown Ketat Korea Utara, Ayah Sedih hingga Diduga Bunuh Diri

Penguncian wilayah di Sakju, Provinsi Hamgyong Selatan, Korea Utara dilonggarkan setelah bayi prematur meninggal karena keterbatasan pertolongan. Seorang sumber di Provinsi Pyongan Utara mengatakan kepada Daily NK bahwa warga di daerah Sakju mulai meninggalkan rumah pada Minggu. Meski demikian, menurut laporan pada Rabu (17/3/2021), otoritas masih melarang warga keluar maupun masuk ke wilayah Sakju.

Sebelumnya diketahui wilayah Sakju dikunci lantaran ada pria dari China yang menyelinap ke wilayah itu pada 28 Februari. Pria yang ditangkap di perbatasan itu menunjukkan gejala Covid 19 seperti demam dan batuk. Adapun pelonggaran penguncian itu dilaporkan karena tragedi yang terjadi pada keluarga bermarga Yoon.

Pada 2 Maret saat hari pertama lockdown dilakukan, karyawan pabrik kapal selam tempat pria bermarga Yoon itu bekerja melarang karyawannya pulang dan harus tinggal di asrama. Alhasil Yoon terpaksa tidak bisa pulang dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil di rumah sendirian. Karena tidak punya cukup bahan makanan, istrinya kemudian dilaporkan melahirkan secara prematur.

Petugas pengendalian penyakit, polisi, dan penjaga lingkungan lokal ( inminban ) mengunjungi rumah rumah di Sakju untuk mendisinfeksi. Saat itulah petugas gabungan itu menemukan istri Yoon sedang berdarah dan kesakitan di rumahnya. Istri Yoon pernah mengalami keguguran sebelumnya sehingga tubuhnya rentan, namun karena penguncian yang mendadak dia tidak bisa ke rumah sakit atau pusat perawatan.

Wanita itu juga tidak bisa minta pertolongan karena ditinggal suami dan tiba tiba melahirkan secara prematur. Istri Yoon seharusnya segera dibawa ke rumah sakit, tetapi kepala inminban mengatakan tidak mungkin membawanya ke rumah sakit selama penguncian. Alhasil inminban memanggil bidan lokal untuk membantu, namun sayang bayi tersebut tidak dimasukkan ke inkubator sehingga meninggal dunia.

Menurut sumber Daily NK , Yoon syok mendengar kematian anak serta istrinya yang dilaporkan menunjukkan tanda tanda "penyakit mental" setelah kehilangan bayinya. Dia meminta untuk diizinkan pulang, tetapi pabrik menolak dengan mengatakan bahwa otoritas memerintahkan agar tidak ada yang meninggalkan lokasi pabrik. Kementerian Jaminan Sosial mengatakan telah menangani penguburan bayi Yoon namun tidak mau membeberkan dimana lokasi penguburan.

Beberapa hari kemudian, Yoon ditemukan tewas di pabrik baterai kapal selam. Manajer pabrik mengklaim bahwa Yoon, yang kelelahan baik pikiran maupun tubuh, meninggal karena jatuh di lantai pabrik. Namun rekan rekannya mengatakan bahwa Yoon memilih bunuh diri setelah mengeluh sakit dan sedih akibat kematian anaknya.

Desas desus tentang tragedi keluarga Yoon menyebar ke seluruh Kabupaten Sakju dan penduduk setempat mulai mengkritik keras penguncian tersebut. "Tindakan karantina seperti apa yang memungkinkan bayi meninggal?" kritik warga sembari mempertanyakan mengapa otoritas gagal memberikan jatah makanan yang layak selama penguncian. Buntutnya, pemerintah melonggarkan penguncian dan kepala inminban yang terlibat dipecat serta bidan itu ditangkap atas tuduhan pembunuhan pada bayi.

"Bidan yang ditangkap oleh Kementerian Sosial menyatakan bahwa bukan salahnya bayinya tidak dibawa ke rumah sakit, dan bayinya meninggal karena tidak ada yang mau bertanggung jawab (membawa bayi ke rumah sakit) karena langkah langkah pengendalian penyakit negara," kata sumber Daily NK. Suami bidan yang dilaporkan bekerja sebagai hakim itu mengancam akan mengirim petisi untuk hukuman istrinya. Namun dia menyadari istrinya itu akan tetap dihukum, sehingga dia: "Akan mengirim petisi yang meminta hukumannya dikurangi menjadi hukuman kerja paksa, sehingga memungkinkan dia untuk mempertahankan statusnya sebagai warga negara dan sebagai anggota partai," kata sumber itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.